Saya terbangun di pagi itu dengan perasaan tegang karena hari ini adalah hari dimana kami akan melakukan salah satu petualangan bersepeda. Bayangan pemandangan indah, turunan tajam, tanjakan yang menantang sudah di depan mata. Sekitar pukul 4.25, saya telah tiba di lokasi dan setelah segala tata krama wajib administrasi, 2 buah lontong diberikan sebagai sarapan dan tak lama kemudian kami siap untuk melakukan loading kedalam 2 buah truk sementara manusianya menaiki bis dan sejumlah mobil pribadi. Saya sendiri ikut didalam mobil sir Apip.

Melaju ke Tangkuban Perahu, rombongan dalam mobil si Apip, menanti di pintu masuk Tangkuban Perahu. Sambil menanti, kami menyempatkan diri menegak bandrek dan menikmati semangkok mie. Lumayan sambil nunggu yang lain sampai hehehe. Tak lama, rombongan yang lain tiba, kami segera memasuki wilayah Tangkuban Perahu dan menuju lokasi parkiran dimana kami akan memulai petualangan kami.

Tiba di parikiran, ternyata sang EO yaitu om Arie Kudajingkrak ketinggalan di pintu masuk hahahahahahahaha. Kok bisa yaa dadah dadah suruh tunggu mobil, disangka dadah dadah suruh jalan. Maka di kirimlah tim penyelamat untuk menjemput sang EO yang terlupakan di pintu masuk sana.

Unloading sepeda dilakukan dan kami bersiap2x, melakukan pemeriksaan terakhir sepeda dan melakukan sedikit pemanasan. Saya sempat menantang beberapa orang untuk mencoba melakukan bunny hoop meloncati anjing yang lagi tidur. Sayangnya ngak ada yang berani. hehehe

Setelah doa dan sejumlah petunjuk dari Dewan Suro dan Rekan KGB, perjalanan dimulai.

Perjalanan dimulai dengan memasuki jalan tanah berupa turunan. Bagian awal perjalanan ini adalah acara bawa sepeda, bukan naik sepeda. Soalnya banyakan di dorong bahkan di angkat-angkat. Sejumlah lumpur juga menjebak teman-teman yang sial sehingga nyebur disitu, disangka dangkal ternyata dalam hehehe. Lumayan, buat pemanasan.

Akhirnya jalanan penuh gowesan mulai terasa. Disalah satu turunan, terjadilah kecelakaan dimana om WJ yang terpeleset, menahan jatuh dengan kaki sehingga berbunyi dan mengalami cedera di bagian lutut. Setelah dilakukan p3k oleh om-om medik perjalanan di lanjutkan. Salut buat om WJ.

Akhirnya sebuah turunan yang dijanjikanpun kami dapati. Melaju kencang di jalan yang menyebabkan angin berdesir di telinga, sambil menikmati pemandangan yang indah alam yang   hijau, wangi alam yang segar untuk paru-paru oh sungguh kami ini hanya sesosok mahluk yang kecil diantara sekian banyak ciptaan lainnya. Dan kami pun melihat betapa manusiapun melakukan pengerusakan pada alam dengan melihat jalanan yang hancur oleh ulah manusia, pohon yang ditebangi, ah kejamnya manusia.

Makan siang ditengah pemandangan pohon teh yang menghampar, di atas sebuah bukit yang indah menjadi tontongan kami bersama nasi bakar, ayam bakar, ikan asin, sambal dan 4 potong timun. Diwaktu makan siang ini masih aja ada yang sempet iseng nyembunyiin sepeda diatas pohon. xixixixi

Habis makan perjalanan dilanjutkan dengan nanjak dulu sedikit, dilanjutkan dengan turunan dan kamipun dipertemukan dengan sungai. Kekompakan para pesepedapun diuji disini. Para Robeker bersama KGB menyeberangkan semua sepeda dan teman-teman hingga selamat ke seberang sungai yang dingin dan airnya makin lama makin deras karena sepertinya diatas sana telah turun hujan. Semuanya merasakan dinginnya air yang berarus itu, dilanjutkan dengan estafet sepeda untuk dibawa keatas karena lokasinya kurang memungkinkan untuk membawa sendiri sepeda keatas.

Perjalanan masih panjang, kamipun melanjutkan perjalanan untuk menikmati jalanan berbatu dimana kami bisa melepas sepeda kami untuk meluncur di kecepatan tertingginya, dijalanan panjang penuh liku hingga kamipun mendarat di sebuah warung sebelum memasuki jalan raya.

Dalam perjalanan ini terjadilah sebuah peristiwa dimana seorang Korwil Robek yaitu mang Dewa yang demi menjaga kerahasiannya kita sebut saja Mr. Anu, telah terjatuh karena menabrak seekor ayam yang menurut om Onal masih perawan. Akibat dari peristiwa aib ini, Mr. Anu, mengalami cedera pada pundaknya yang menjadi biru dan menurut laporan yang kurang bisa dipertanggung jawabkan pada malam harinya tangannya jadi susah digunakan untuk mengangkat barang. Hingga saat ini Mr. Anu belum memberikan pernyataan resmi atas peristiwa aib ini. hahahahaha

Perjalanan masih berlanjut dengan menggowes di jalanan aspal menuju ke Masjid Agung Lembang. Dalam perjalanan terjadi lagi kecelakaan yang menimpa nte Mia yang terjungkal ketika sedang melahap turunan dengan kecepatan tinggi yang mengakibatkan sedikit cedera pada bagian jidat kanan. Segera teman-teman bergerak untuk melakukan pertolongan pertama dan membawanya ke puskesmas dengan menggunakan pertolongan dari seorang bapak yang mengendarai mobil bak terbuka, sementara sebuah mobil pribadi salah satu rekan menuju lokasi untuk mengevakuasi sepeda. Sementara sisa rekan yang tertinggal melanjutkan gowes ke lokasi kumpul terakhir.
Syukur dari hasil pemeriksaan nte Mia hanya mengalami shock saja dan tidak ada masalah serius.

Setelah beristirahat dan doa bersama, kami melakukan loading dan pulang kembali ke Bekasi dan diturunkan di tempat yang sama dengan ketika kami berangkat.

Dari sana kami pulang, sebagian dengan menggowes sambil membawa kenangan indah kami dan sebuah pengalaman yang akan kami kenang hingga akhir nanti.

Terimakasih EO, Terimakasih Robek

Karena Bersepeda Maka Robek Ada

*foto diambil dari koleksi om Pramudya Ade dan nte Rola Eva