Story told by om Rully Kesuma

Sabtu, 15 Desember 2012 Jam 04.30 alarm BBku berbunyi, mata masih rerasa perih dan lengket. Bagaimana tidak, saya baru tidur pukul 00.30. Alarm kusetel ulang untuk 15 menit kemudian setelah memasak air mandi dan minum susu coklat Milo buat kedua anakku. Satu menit sebelum bel berbunyi aku terbangun untuk menyeduh coklat instan, teh manis untukku dan istriku. Usai mandi, menggoreng terur mata sapi dan melahapnya, pukul 05.45, saya memacu mobil VW Combi telor asinku yang sudah tidak terlalu kinclong lagi (tapi aku tetap menyayanginya). Waktu tinggal 15 menit menuju Islamic Centeri Barat, Bekasi tempat titk kumpul gowes bareng ke Pangheotan-Waduk Cirata. Suatu hal hal yang tidak mungkin dilakukan di hari-hari biasa. Setelah mengisi BBM, saya geber mobil “this is not a car, it’s Volkswagen”, slogannya anak2 VW. Kebayang, kan mobil roti kadet mirip metromini ngebut mengejar waktu di jalan raya Pekayaon-Pondok Gede?. Hari biasa…? Jangan harap. Dari rumah ke Pasar Rebo saja bisa 30 menit. Ternyata hari ini berpihak padaku, Tepat jam 06.05 sampai juga disana. Walau agak celingukan, kerena mungkin satu-satunya peserta yang tidak bersama rombongan, apalagi ini bukan rombongan biasa saya jalan. Untung saya ketemu Dewa Sina mantan ketua Robek, Aris yang menerima pendaftaran di saat-saat akhir, dan Trio TJ MTB’r JJ yang ‘gradak-gruduk’. Sebungkus nasi kuning mengisi perutku lagi sebelum menaiki truk Perkasa milik TNI buatan Texmaco sesaat sebelum Soeharto lengser. Saya ingat truk itu yang membawa PPRC (pasukan gabungan bentukannya Wiranto untuk membubarkan aksi mahasiswa yang menginginkan perubahan di tahun 1998).

 

333361_10151379622908824_1877704375_o (1) Waktu molor lebih dari 90 menit jadwal mengakibatkan start dari Lapangan bola perkebunan Pangheotan dimulai jam 10.30. O..iya..Pangheotan ada di daerah Tagog Apu, Padalarang, kalau dari Bandung ada penunjuk arah menuju stasiun kereta api Cilame. Naik saja terus sampai ketemu perkebunan teh. Kegiatan pertama sebelum berdoa adalah pipis bareng di kebun teh yang luas dan hijau beratapkan langit biru cerah dihiasi sedikit awan seputih salju. Perjalanan dimulai di jalanan makadam khas perkebunan sekitar 1 km. Si ujung jalan ada turunan yang di sebelah kanannya berkumpul rumah-rumah kayu pemetik teh. Di ujung turunan itulah ‘kebersamaan’ itu mulai terasa. Di jalanan yang berujung tanjakan single trek kebun teh itu sebenarnya bisa digowes. Tapi dengan jumlah 120 goweser gabungan dari ROBEK, dan sisanya entah darimana, plus saya si ‘Anak tanpa Induk’, rasanya jadi sulit karena antrian mengular. Melewati tanjakan, baru lah single trek datar bisa dinikmati, di sebelah kanan lembah dengan gunung Burangrang anggun menjulang.Cuaca terik membuat kaos tangan pendek hitamku menyerap panas lebih banyak. Mana gak pake manset tangan lagi, walhasil aku kepanasan karena salah pengertian, kirain kaos Gobar diberikan panitia saat start, akibatnya tangan gosong karena gak bawa manset, satu-satunya pelindungku adalah sunblock…wakakkakakak……… Selama jalanan datar, kecepatan dan indahnya pemandangan adalah paduan yang sempurna, tidak puas-puasnya mengagumi trek baru ini. Hambatan biasanya terjadi tekalau ada turunan dan tanjakan yang sedikit curam, disini lah terjadi antrian panjang dan lama. Setelah melewati single trek yng lebih pas disebut semak-semak, kami melewati jalanan beton kecil memasuki perkampungan. Di desa itu lah kami memborong makanan dan minuman dan makanan di warung, Kayanya stok seminggu habis tuh, Kalau tidak salah itu di daerah Cisomang. Menyusuri jalanan aspal di kampung akhirnya kami masuk ‘AC Alam’-hutan pinus, dekat pabrik pengolahan teh. Dasar orang kota, melihat hutan pinus yang kerap kaya melihat oase aja….ha ha ha. Berfoto-foto- bergaya. Kata Trio, biasanya tempat ini tempat makan siang kalau main di trek Walini.

 

463927_10151379655263824_9315772_oSetelah 30 menit menikmati dinginnya hutan pinus, perjalanan dilanjutkan. Akhirnya tiba juga makan siang di kawasan Panglejar di antara jalanan lama Bandung-Purwakarta sebelum ada jalan tol. Usai makan siang bareng, kami menyusuri aspal sekitar 150 meter, menyeberangi jalan memasuki perkebunan teh Penglejar. Disinilah ada insiden. Adik kelasku, Dewa Sina jatuh di turunan setingi 1 meter pas di depanku. Aku sempat bilang, loncatin aja. Hasilnya jungkir-balik. Aku sempat foto dia sambil senyum-senyum . Ada rasa menyesal ketika ternyatatahu lengan atasnya patah (walau kita tidak bisa mengatur musibah, kan? ). Tapi show mus go on……Dewa dievakuasi ke Bandung. Giliranku lah yang jatuh saat mengayuh lambat di jalanan rumput yang rata tanpa memperhatikan jalan sambil makan kismis kuning di tangan kiri, tiba-tiba sepeda jungkir balik. Tulang rusuk kena handle bar. Sambil bengong dan tangan kiri memegang makanan aku keheranan kok bisa jatuh, rupanya ada bonggol kecil ditabrak crank. Untungnya bareng sweeper adalah bisa jalan kencang, melewati kebun karet, menyeberangi jembatan di atas tol Cipularang. Melewati jalanan kampung yang ditanami padi di kiri kanannya. Seperti biasa, panggilan mister dan ‘give me five’ anak-anak kecil selalu menyambut kami dengan riang. Yang berbeda adalah setiap saya lewat terdengar hitungan ‘110’, rupanya aku termasuk urutan terakhir sebelum sweeper. Entah aku memang termasuk sweeper atau lelet? He he he. Sebelum masuk kembali ke kebun karet, kami melewati stasiun kereta api Cikadongdong, ..horeee, kesempatan langka foto-foto sebelum kereta datang, kapan lagi.

Di perkebunan karet terakhir ini lah antrian panjang dimulai lagi. Entah lah namanya turunan ini, anak2 Robek menyebutnya ‘turunan Olenk, karena Om Olenk pernah jatuh. Turunan tajam yg memerlukan kemampuan teknikal yang cukup baik, jadi kalo gak biasa main di turunan kaya Grand Canyon JJ, please don’t try it alone and chose TTB is the Best. Ini lah turunan terakhir trek ini sampai tiba di sungai dangkal, yang kala Roger Bagen kesini setinggi dada karena hujan lebat. Sisanya jalanan aspal sepi menanjak menuju titik pencapain perjalanan kali ini. Waduk Cirata yang cerah sebelum matahari membenamkan dirinya di tepian Barat sana.

 

Terimakasih Robek yang telah mengadakan perjalanan ini Rumah Sakit Mitra Keluarga, Bekasi Barat, kamar 327 (Senin (24 Desember 2012, pukul 11.10 WIB). (terkena thypus pulang dari Pangheotan jam 21.30, perut kembung kerena lapar langsung minum AW Rootbeer dingin, setelah mengantar TJ di gerbang Villa Nusa Indah 2. Sebelum minum memang sudah ada firasat bahwa tindakan minumsoda pada saat perut kosong bukan hal yang cerdas. Tapi kadang kecerdasan kalah oleh urusan perut dan nafsu….hiks)

 

333361_10151379622908824_1877704375_o (1) 329244_10151379623283824_1088784329_o 337217_10151379655008824_1177482337_o 291666_10151379653993824_869100722_o 325974_10151379624253824_784557923_o 376260_3804041256994_779223943_n290003_10151379658518824_1806784743_o

 

foto – foto lainnya bisa dilihat di :

Gowes Bareng Rombongan Bekasi tgl 15-12-12. Sessi 1 Pangheotan – Panglejar

Dikirim oleh Iwan Kurniawan pada Minggu, 16 Desember 2012

Sessi 2 – Panglejar-Cirata

Dikirim oleh Iwan Kurniawan pada Minggu, 16 Desember 2012

 

GOBAR-ROBEK-151212 (2)