anu

ANUER VOLCANO RIDE – TOUR DE MERAPI – Diceritakan oleh sir TJ – Tjahyo 15cm

Yogya dan Merapi. Buat  saya, kedua nama itu menyimpan nilai kombinasi  unik  : perpaduan antara kelembutan dan kedigdayaan  kultur Jawa, eksotisme pariwisata,  sekaligus kesan magis, mistis, petualangan, kebrutalan dan keindahan alam, serta keagungan Sang Pencipta . Mungkin karena kesan ini juga, maka ketika Sir WJ mengajukan diri untuk mencoba trip disana sekaligus menjadi tuan rumah,  wacana ini menggelinding cepat bak bola semen hingga akhirnya RC mengetuk palu untuk BERANGKAAAT. Dan seperti biasa,  sejak itu waktu merangkak  sangat lambat.. bat.. bat.. bat gak sabar menunggu hari keberangkatan.

KEBERANGKATAN

Total 22 orang bergelar Sir telah memastikan berangkat menyongsong petualangan ini :

Sir RC aka Iman yang untuk trip kali ini bebas tugas euy, Apip (AK), Adit Ketay , Adit Olenk, Arie AKJ, Wahyu WJ, Tjahyo TJ, Eko KG, Djohan, Tutus, Toni OT, Anthony, Eep Ganteng, Farid Sabun, Widodo Gusdur, Teguh, Firman Muda, Wiko, Wak Haji Lutfi Hahaha, Tono, Madro, Korwil Budi Anduk. Semua peserta berkumpul di stasiun Pasar Senen, kecuali Madro dan Korwil yang bertugas menemani (tidur di samping) supir mengangkut sepeda. Sebagian besar sepeda diangkut dengan Elbir yang dinakhodai Reri Arab Sena, sementara  sebagian sepeda yang mahalan diangkut dengan Panther Sir AK.

Tepat Jam 21:10, kereta Senja Utama Solo kelas bisnis  bergerak membawa kami ke arah Stasiun Tugu, Jogya. Perjalanan di kereta kali ini (tumben) cukup beradab. Gak ada kartu Holland maupun remi.  Semua tampaknya memilih tidur cepat. Mungkin mau menghemat tenaga, atau mungkin kita masing-masing pura2 tidur sambil merenungkannasib para Jters yang meranggas gak bisa ikut trip ini, apalagi gemeretak dan derit gesekan besi kereta api seakan membawa lamunan kepada diskusi sir Ntuh tentang besi bahan bangunandan batubata beberapa hari lalu … hiks.

DAY-1, Sabtu 14 September 2013

Rute : St. Tugu – Suroloyo – Cangkringan

1048270_10201187512467337_1585780403_o

Sekitar pukul 5:00 pagi, kami menjejakkan kaki di Stasiun Tugu Yogya.  Elbir dan Panther sudah menunggu di luar. Tampak pula dua goweser Yogya yang sudah menunggu kami, dipimpin oleh Om Taufik yang berpenampilan sangat kalem, khas Yogya. Mereka akan memandu kami menikmati suguhan trip di hari pertama ini. Cuaca kelihatannya akan cerah hari itu, namun mendadak sedikit mendung waktu saya lihat om Korwil yang belum mandi terduduk lemas di belakang Mobil. Rupanya benar, dia dalam keadaan nggak fit untuk ikut trip ini, terlihat mukanya agak pucat tapi  tetap gelap. Siapasih tuh, yang maksa2 diatetap berangkat pake mobil? Huh, nggak berperikeanuan! Anyway, rencananya Korwil akan cobagabung di trip hari ke-2 saja. Apa boleh buat, turut prihatin Sir.

Pedal-off  jam 7 pagi,21 anuer plus 2 goweser tuan rumah santai mengarungi jalan2 arter pusat kotaYogyadibawahsiramanlembutmentaripagi.Kontur jalan aspal halus, dan datar. Terakhir kali saya ke Yogya 4 tahun lalu, tampaknya sekarang jalanan dan trotoar lebih rapi. Ramai kaki lima, menjajakansajiankhasberselera, orang dudukbersila. Ups, itumahlagunyaKatonBarakuda yak??30 menit kemudian,  tibalah kita di pitstop pertama untuk sarapan : Kedai Soto Pak Sholeh di Jalan Wirataman daerah Tegalrejo. Konon, kedai ini cukup terkenal dikalangan pecinta kuliner di Yogya, dan sudah berdiri  dari tahun 80-an. Tanpa basa basi, sejenak kemudian kami sudah menikmati  menu  andalan di sini, soto daging sapi yang maknyos puoll.

Perjalanan dilanjutkan, menyusuri jalan2 besar. Sekitar sejam kemudian, om Taufik membimbing kami berbelok ke jalan desa, namun masih berupa aspal. Anuers kali ini tumben sangat sopan. Semua berbaris rapi kayak itik di belakang RC yang mengayuh dengan kecepatan konstan, sekitar 25-30kpj saja. Di sepanjang jalan, di sebelah kanan kami, membentang sebuah sungai  buatan yang bernama Selokan Mataram, yang tertata apik membelah pedesaan ini. Setiap beberapa ratus meter, jembatan  permanen membelah sungai ini dan menghubungkan dengan sisi sungai yang lain, yang mayoritas adalah tanah kosong atau perkebunan.  Menurut Mbah Google, Selokan ini dibangun pada masa penjajahan jepang yakni sekitar tahun 1942 hingga 1945. Dahulu selokan ini oleh jepang diberi nama kanal Yoshiro. Pada waktu itu banyak warga yogya yang akan dikirim jepang sebagai pekerja romusha ke luar jawa namun atas kesepakatan antara Jepang dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX maka warga yang akan dikirim keluar jawa tersebut dipekerjakan untuk membuat saluran irigasi tersebut.

Dari jalanan aspal ini, kami bisa melihat sebuah single track tanah dan rumput kering di sana, yang meliuk2 mengikuti jalur sungai ini.  Hmmm…. bisa runyam nih.

Benar saja, sejurus kemudian, beberapa anuers mulai kegatelan. Mungkin mereka bosan dengan speed konstan di jalur aspal ini, atau mungkin dasar pecicilan.  Sir Iman, Sir AKJ,  Sir Djoh, Sir Olenk, Sir AK, mulai provokasi menyebrang jembatan dan  masuk ke single track itu. Ngebut  sambil kegirangan, sehingga terkadang mendahului RC Om Taufik di sisi seberang.  Akhirnya saya juga ikut2an, ajrut2an ngebut di single track tersebut. Sekali2 kita nyeberang jembatan untuk bergabung lagi dengan rombongan. Begitu terus, sampai di satu titik RC berbelok ke kiri, ke sebuah jalan raya, masih di pedesaan. Dari plang di pinggir jalan, saya baru tau kita berada di daerah Muntilan, Kab. Magelang. Kontur aspal mulus, namun hanya sedikit kendaraan berlalu lalang.

Di sebuah jembatan, kami re grouping dan foke2.  Di kiri bawah kami, membentang sungai besar berpagar beton ,  lagi lagi menurut mbah Google, tempat ini diberi nama bendungan Ancol Bligo.  Selesai foke2, perjalanan dilanjutkan, kali ini kontur mulai perlahan miring ke atas.  Kanan kiri pepohonan atau dinding bukit, dan relatif sepi. Suasana dan trcaknya mirip di Curug Panjang. Saya berada di group tengah, sambil jeprat jepret, karena kali ini saya bawa tustel gede saya alias DLSR.  Sempat berhenti sebentar bantuin (nyela) sir Tono yang lagi berhenti, kebingungan  ngeliat gerigi crank kecilnya bengkok macam sendok. Ada Sir OT juga berhenti di situ, celingak celinguk gak tau mau ngapain. Kata Sir Tono, crank itu kalah kuat waktu menahan hentakan rantai saat nanjak, karena rantainya Sram X0, sementara cranknya KW. Entahlah, sungguh aneh memang. Sempat saya mikir ini sengaja dibengkokin supaya ada alesan ambil nafas. Makanya, kalo nanjak tuh pake crank yang gede (Madro: 2013) PLAAKKKK! Selesai digetok hingga lurus lagi oleh Sir Madro yang berperan sebagai sweeper, kami lanjut dan saya baru sadar rupanya RC Om Taufik juga berhenti di sini. Lah, trus, yang rombongan depan mana? Pasti udah ngacir duluan. Kelakuan!! Saya sempat tanya ke Om Taufik, apakah kita ini sudah mulai nanjak yang 10km Suroloyo?  Dia membenarkan. Baiklah. Sambil pura2 mau moto di depan, saya langsung tancap pedal. (sopan, gua mah)

Perjalanan semakin mendongak, tapi saya masih bersemangat dan merasa segar untuk terus merengsek maju. Selepas jam 11,  sampailah kami di pitstop, sebuah warung sederhana, yang berplang TONGSENG JAMU. Sudah ada banyak orang di sana, Sir Iman, Sir Djoh, Sir Tutus, Sir Firman, Sir Anthony, Sir AK, Sir AKJ etc. Beberapa orang terlihat kikuk memandangi gelas es teh manis di depannya sambil cengar cengir.  Tanpa banyak cingcong, saya langsung senderin sepeda dan menyambar segelas es teh manis di pinggir meja, yang tampaknya tak bertuan. Segarrr dan nikmattt!!

1236645_10201951632862907_1641077164_nGak lama baru saya lihat tulisan2 aneh di daftar menu yang tergantung di sana  : ada nasi, Rica-rica ayam, minuman, dan … TONGSENG RW, TONGSENG BABI. Jiahhhh. Pantesan aja ini teh manis seger banget, dan orang2 pada malu2 kucing! Namun tak urung banyak juga anuers, terutama yang datang belakangan, nekat pesan es teh manis.  Ada juga yang maen aman: gak pesen minum tapi cukup nyomot  pisang aja, langsung dari tandan yang ngejogrok di situ. Dia nggak tau, itu pohon pisangnya juga hasil kebon yang dipupuk pake pupuk t*i babi (Wak Lutfi: 2013) Hahahaha.

 

 

Sambil nungguin yang lain oleyeh2, saya sempat nyoba2 Pivot kinclong milik Sir Farid, kali-kali aja jodoh kalo udah bosen sama Anthem. Kesan saya sih, hmm.. kurang mahal. Mungkin itu juga yang menyebabkan Sir Farid berniat meminang sepeda Ti.  Beberapa orang sudah mulai melanjutkan gowes, jalanan di depan terlihat semakin menanjak.  Saya pun melanjutkan perjalanan, tustel saya masukkan ke backpack, gak usah foto2 lagi karena kayaknya makin ke depan makin mendongak, dan saya ingin menikmatinya.  Selang beberapa menit, tak dinyana otot paha depan mulai berasa aneh dan kaku. Oh God, plis deh jangan kram di sini. Makin lama makin kerasa, dan berpindah kadang paha kanan kadang kiri. Pantang menyerah, saya lanjut terus, walau mau nggak mau makin melambat. Ya, sekitar 35kpj lah. Beberapa km ke depan semakin menyiksa, sampai akhirrnya saya tersusul oleh rombongan belakang dan tinggal ditemani sweeper Sir Madro. Terik matahari garang membakar kulit, keringat meruap cepat, menambah bete. Akhirnya di satu titik, rasa sakit tak tertahan dan saya berhenti. Paha kiri ngejendol, pahas kanan nggak parah cuma keras juga.  Untung ada Sir madro, sambil nyengir kuda dia bantu saya untuk meluruskan kaki dan recovery. Sejak saat itu, setiap meter menuju puncak Suroloyo serasa sontoloyo. Siksaan yang gak berujung karena saya harus gowes lambat2 sambil nahan sentakan untuk mencegah kram lagi.  Di tengah2 perjuangan ini, datanglah sedikit hiburan : saya bertemu rombongan belakang yang sedang mengaso di pinggir jalan yang teduh. Ada Sir OT, Sir KG, Sir Ketay, Sir Wiko, dan Sir Farid. Saya nggak akan tulis disini bahwa mereka sedang pucat kepayahan, cukuplah saya bilang lagi foto2 sambil nyari warung Mbak. Hahaha.

Papan penunjuk di pinggir jalan tertulis puncak Suroloyo masih 5.5km lagi. Oh, yes. Sejak saat itu, Sir Madro rupanya udah gak sabar, dia langsung melesat hilang. Tinggalah kami berenam, menikmati elevasi jahanam tanpa bonus sambil bercengkrama di jalan yang sepi. Sekali2 berhenti cari warung, menikmati Ale Ale. Santai. Lagipula, ngapain sih buru2? Jauh-jauh ke Yogya mestinya kan untuk dinikmati? Saat itulah saya baru tau rasanya menjadi bagian dari B4, yang saat  itu juga diproklamirkan menjadi B6. Sekitar tengah hari, akhirnya sampailah B6 ini dengan gagah di puncak Suroloyo. Dari hasil rekaman GPS, ternyata total jarak mendongak yang ditempuh adalah 10km, dengan elevasi dari 200dpl ke 900dpl. Artinya elevasi 70dpl/km. Sebagai perbandingan, elevasi WT alias TW dibalik hanya 30dpl/km, gunung bunder 32dpl/km, embrio 46dpl/km, Monteng Garut 120dpl/km.  Atau kalau mau perbandingan yang lebih familiar, kemiringan Ancol-Suroloyo ini dua hampir kali lipatnya kemiringan trek Gadog-RA. Lantas edankah Suroloyo ini? Biasa aja sih, apalagi kalo tadi saya nggak kram. (nada datar).

Sambil ngariung di sebuah warung, anuers yang sudah kelaparan berebut pesen indomie. Lanjut foto2 di dekat pelataran parkir Taman Suroloyo, dimana ada patung tokoh2 punakawan dalam perwayangan. Banyak juga yang milih foto di sebelah Semar, soalnya kalo deket patung Petruk ntar kontras sama perutnya.    Sayang kami tidak cukup waktu untuk masuk ke dalam area wisata, dimana  konon terdapat beberapa tempat pertapaan para raja dahulu, diantaranya Sultan Agung di abad 18.  Tapi saya cukup puas dengan menikmati suguhan kopi hitam Suroloyo yang diseduh di gelas kaleng. Sungguh Nikmat. Tak lupa saya dan beberapa anuer  beli sebungkus buat oleh-oleh.

Perjalanan dilanjutkan, dengan bahasa Jawa halus, Om Taufik mulai bertanya kepada penduduk setempat, arah menuju Cangkringan. Nah lo. Kirain hapal??

Menu selanjutnya mudah ditebak: jalanan terus  turun dan turun, semua anuers melesat cepat, yah begitulah, segmen gak penting ini perlu diselesai sesingkat singkatnya, siapa tau di ujung sana ada tanjakan menggairahkan lagi . Ada yang berani sampai 60an kpj, kayaknya.  Ngeri euy.  Berangsur angsur kontur berubah datar dan beberapa kali Om Taufik menanyakan arah ke penduduk, sampai akhirnya di sebuah persimpangan beliau pamit untuk pisah dari rombongan. Bingung juga saya sebenarnya, RC kok pulang. Apa salah kami ditinggal begini? Tapi kami mahfum rumah beliau ternyata sangat berlawanan arah dengan arah kita ke cangkringan.  Matur nuwun sanget Mas Taufik, sudah sudi memandu kita. Maaf kalo ada salah-salah canda dan kelakuan. Mudah2an kita bisa gowes bareng lagi kapan2.  Di sini sir Anthony mulai memainkan GPS nya dan memimpin di depan. Tinggal 18km lagi ke puskesmas Cangkringan, katanya.  Masih dibawah cuaca terik, kami lanjut melalui jalanan raya yang relatif ramai, tapi saya nggak tau dimana. Cuma rasanya kok nggak nyampe2. Pitstop sekali untuk merapatkan barisan, kami sempat berebut es cendol yang ketiban rejeki diserbu anuers, kayak tenyom kelaparan berebut pisang gratis.

1239976_10201951658463547_1278086982_n

Sekitar jam 4, kami berhenti di sebuah mesjid di daerah Sukoharjo untuk sholat Zuhur+ashar. Sholat tanpa sarung, pake mukena pun jadi. Semriwing rasanya, hehehe.  Saya mulai gelisah karena lapar, tadi kan di Suroloyo Cuma diganjel indomie. Cek ke sir Anthony, dia bilang masih 15km. Lah, perasaan 1 jam lalu bilang 18km?? Boong banget.  Cuaca mulai adem, kami melanjutkan perjalanan hanya mengandalkan GPS karena ternyata sampai daerah ini Sir WJ tuan rumah dan Sir Ketay juga gak tau jalan. Target sementara Sir WJ adalah pasar Turi, dan setelah itu dia klaim tau jalan. Semoga.  Sampai ke pasar Turi hari makin sore, sekitar pukul 5. Sisa perjalanan diisi kebut2an ala Anu, mumpung nggak ada RC nya. Akhirnya setelah melewati banyak daerah persawahan yang asri, kami pun tiba di desa Cangkringan dan langsung merengsek ke rumah si Mbah  nan mewah. Sebuah rumah yang didominasi kayu mentah dan berarsitektur khas Jawa. Pendopo luas di bagian depan sudah dikosongkan dan digelar karpet / tikar untuk kami bermalam. Alhamdulillah!! Tuntaslah perjalanan kami dengan selamat di hari pertama ini, setelah menempuh total 87 km.

 1265894_10201187594469387_1016810470_o

Acara berikutnya adalah pesta yang sebenar benarnya. Ada teh manis hangat, wedang jahe,  jagung rebus, ubi rebus, kacang tanah, kerupuk beras buatan si Mbah. Oalah si Mbah ternyata benar benar menjamu kita. Sebelum makan malam, kami ngariung sambil berkenalan dengan si Mbah, yang merupakan ibunda Nte Wening Spindoc.  Cerita-cerita si Mbah tentang letusan Merapi tahun lalu begitu dramatis, termasuk kisahnya sendirian berjibaku menembus lumpur dingin guna menyelamatkan diri dari amuk sang alam menembus desa2 yang gelap dan sudah kosong tak berpenghuni. Subhanallah. Semuanya menambah rasa penasaran kami akan kebrutalan track yang akan kami hadapi esok hari.

Kebersamaan hari ini ditutup dengan makan malam super mewah : Sate kambing muda. Jangan tanya gimana nikmatnya: seharian gowes menembus Suroloyo, kram, panas terik, goset, kurang makan, terus disodorin Sate Kambing. It’s heaven on earth.  Kalo nggak percaya, tanya aja Sir AKJ. Dia makan paling banyak tuh.

Malam itu kita tidur pulas kekenyangan beralas tikar ataupun sleeping bag. Rencana semula untuk turun keMalioboro untuk kulineran nggak terdengar lagi gaungnya. Nampaknya suasana hangat rumah ini membuat kita betah untuk mendekam semalaman. Tak ada insiden berarti, kecuali teetttttt……… (sensor).  Aya aya wae.

DAY-2, Minggu 15 September 2013

1263076_10201187625150154_1121051349_o

RUTE : Bronggang-Klangon-OpakPagi ini begitu indah : bangun tidur di antara hamparan anuers yang bergeletakan di pendopo rumah nan adem, keheningan suasana desa, dan ditutup dengan sarapan Tongseng maut bikinan si Mbah. Nikmat apalagi yang kau dustakan?  Ditambah lagi, kondisi fisik dan kakiku rasanya sudah sangat fit pagi ini. Siap menyongsong brutalnya track yang menghadang.

Pagi itu foke2 bersama si Mbah  begitu ceria,  semua mengenakan  jersey Anu baru yang tampak kinclong menyala. Kami berpamitan dengan si Mbah sekitar jam 7:30, menuju tikum di desa Bronggang tempat Om Bimo dkk. Sudah menunggu. Om Bimo ini adalah salah satu punggawa goweser dan B2W Yogya, dan hari ini beliau akan memandu kami  mencicipi debu merapi.  Sempat kaget juga melihat om Bimo dan temannya, ternyata setingannya full mudun : Sepeda AM dg fork double crown, helm full face, dan protektor.  Jelaslah bhwa mereka berbeda aliran dengan anuer, alhasil disepakati  bahwa anuer  akan gowes nanjak ke Klangon tanpa pemandu. Kelompok Om Bimo akan naik pick up dan menunggu di sana, untuk kemudian turun bersama2.  Baiklah, we’re on our way!

Saya nggak menyimak briefing kondisi track, jarak, dan elevasi dari om Bimo, tapi buat jaga2 saya bungkus  kamera rapat2 dan masukkan ke tas punggung, karena tampaknya medan di depan akan berpasir.  Kali ini saya mengambil posisi di rombongan depan, bareng Sir RC, Sir Djoh, Sir Tutus, dan Sir Farid.  Benar saja, jalan yang kami lalui adalah jalan desa rusak bercampur pasir merapi. Truk-truk lalu lalang menerbangkan debu kemana-mana.  Buff saya kenakan. Untunglah semalam sempat hujan sebentar, sehingga lumayan mengendapkan debu dan pasir di jalanan.  Jalan rusak berlapis pasir yang kami lalui ini luruuuus terus, nggak ada beloknya, dengan elevasi landai tapi terus menanjak.  Tampaknya jalan ini adalah lintasan shortcut truk truk pengangkut pasir Merapi. Ban Larsen TT 2.1 yang saya pakai terasa mantab, terus beputar cepat mengais pasir abu kecoklatan.

Beberapa kilometer kemudian, barulah ketemu jalan aspal yang lumayan bagus. Dan yang lebih bagus lagi : elevasinya langsung meningkat tajam. Saya bisa melihat hamparan jalan aspal meliuk2 naik mengundang liur. OK, now it’s time!! Tanpa berhenti, saya lanjut merengsek ke depan hingga tinggal sendirian. Tampaknya Sir Djoh berhenti sebentar mungkin kebelet kencing.  Cuaca sangat sejuk, udara bersih, jalanan sepi, pemandangan indah, tanjakan tak berujung, dan kaki tidak kram. Sempurna!!  Tak lama, Sir Madro menyusul (biasa, cengar cengir) diikuti Sir Djoh. Luar biasa. Saya terus menguntil mereka sampai akhirnya kita berhenti di sebuah warung untuk pit stop. Sayang kali ini nggak ada menu tongseng RW.  Satu persatu anuers yang lain berdatangan dengan cepat dan langsung pesan teh manis hangat. Setelah isi bidon,  beberapa orang memutuskan lanjut duluan. Saya sempat foto2 dulu sebelum mulai gowes lagi. Ke depan, jalanan semakin miring tapi semakin mengasyikkan. Mungkin ini bisa jadi salah satu track nganu favorit saya. Kali ini saya agak santai, sesekali berhenti untuk foto2. Toh kayaknya rombongan di belakang masih banyak.  Sedang asyik2nya menikmati tanjakan, tiba-tiba saya dikagetkan suara tawa menggelegar  : HAHAHAHAHA. Kutengok ke belakang, terlihatlah Wak Haji Lutfi naik ojeg sambil memangku sepedanya, terbahak-bahak penuh kemenangan sambil  melambai-lambai. Hadeeeh, si Wak kelakuan.  Sekitar jam 10, sampailah saya di puncak Klangon. Total tanjakan pagi ini tercatat 13km, elevasi dari 400dpl ke 1,300an dpl. Perfect!  Beberapa anuers sudah bertebaran di warung2 disana, menyeruput Suhe disela tawa terbahak wak Haji yang puas karena sampe duluan di sana.  Om Bimo dan kawan2 juga sudah ada di sana. Anuers yang lain terus berdatangan dengan gagahnya satu demi satu, sampai akhirnya rombongan terakhir tiba …. dengan mobil epak!!!  Disebutin nggak ya, namanya? Tebak sendiri aja deh.

Sekitar setengah jam kemudian, dengan dipimpin Om Bimo, kami mendaki bukit sekitar 800m menuju titik start downhill di puncak bukit.  Di sana kami berdoa dulu, dan briefing kondisi trek yang katanya berkarakter all mountain dan akan berakhir di daerah Opak.  Seat post diturunkan, satu persatu anuers melesat turun. Sungguh track ini, terutama buat pecinta turunan, sangat menggoda. Kontur tanah padat dan sesekali berpasir, meliuk2, melewati perkebunan, rerumputan, single track bercampur baur. Saya mengambil posisi di tengah, pokoknya jangan coba2 ada di depan Wak Haji, Sir KG,  dan Klewang. Nggak sopan mereka!

Kami sempat  regrouping sejenak dan berfoke ria, sebelum lanjut melesat turun. Adrenalinku membuncah naik, tiba2 kok merasa ketagihan main turunan kayak gini.  Sampai sempat bercanda mengusulkan supaya Anu ganti aliran aja, yang disambut gelak setuju Wak Lutfi. HAHAHAHA. Dan ini kayaknya yang bikin kualat.  Beberapa ratus meter ke depan, saat lagi asik2nya berseluncur, tiba2 ban belakang serasa oleng membentur dinding tanah atau batu. Salahnya, reflex saya kurang tepat : menarik tuas rem kiri alias rem depan. Jadilah Anthemku terhenyak nungging dan saya terlempar kayak joki mental dari kudanya.  BUUUUMM!!   Muka sebelah kanan dan bahu sukses mencium tanah.  Terus terang ini jatuh yang paling keras selama saya naik sepeda. Helm dan kacamata pecah. Setelah memar dan lecet di kasih Betadine  dan recovery sejenak, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan, pelan-pelan. Saat itu muka dan bahu  berasa sakit, tapi semangat masih tinggi. Lagipula saya nggak mau merusak kesenangan teman2 yang pastinya lagi orgasme menikmati track ini.

Setibanya di Opak, Om Bimo memberi pengarahan kepada anuers untuk belok kanan, menanjak sejauh 6km an menuju Kaliadem. Sementara beliau dan rekan2nya akan menunggu di puncak sana.

Sir Ketay menawarkan saya untuk turun saja dan menunggu di rumahnya di Pamungkas, tapi karena merasa masih fit dan tanggung, saya tolak. Akhirnya saya pun perlahan mengikuti rombongan berbelok ke kanan, menanjak. Beberapa ratus meter berlalu, rasa cenut2 di bahu semakin terasa, sementara jalanan penuh debu dan truk lalu lalang. Saya tutupi luka2 dimuka dan di lengan dengan buff dan arm warmer.  Saya mulai labil, apalagi kata Sir WJ nanti dari puncak sana turunan ekstrim sudah menanti.  Akhirnya dengan beraat hati saya menyambut ajakan Sir WJ, untuk kembali ke basecamp di Cangkringan.  Dan kelihatannya itu keputusan terbaik.

1272579_10201187689271757_475899736_o

By Pispot Gandalf

“Hanya 6 kilo naek atas” ujar om Bimo (Must Be More). Setelah menikmati turunan, siapa yang tak akan lupa diri. Terlena menikmati angin semilir dalam adrenalin yang mengalir deras, rimbunan pepohonan, basahnya rumput, kerasnya tanah merah bercampur pasir dan batu lepas, euphoria pumping sepanjang track. Sungguh membuat lupa diri.Apa yang kami lupakan? Yaitu kodek yang tak tertulis : “Jangan percaya dengan RC dan jangan pernah menganggap serius seorang downhiller bercerita tentang nandjak”.

Ternyata itu bukan 6 kilometer, tapi lebih dari 10 km menanjak ke arah Kaliadem, lokasi di mana bunker pengungsian yang sempat membuat berita di koran nasional. Bunker itu terletak persis parallel dengan lokasi rumah Mbah Marijan, jarak antara keduanya tidak begitu jauh.

Dengan kondisi tenagaku yang sudah setengah terkuras, aku kembali memancal si pispot mengayuh perlahan di antara debu yang beterbangan dan lalu lalangnya truk-truk pengangkut batu dan pasir. Sepanjang track jarang aku temui medan beraspal yang lumayan bagus, jalanan sudah rusak dan tertutupi sebagian besar dengan pasir Merapi.

“Comfort zone may kill you”. Setelah ternina bobokan oleh turunan dan harus menanjak lagi, adalah hal yang tidak begitu aku sukai. Tapi keinginan untuk balik badan, mengikuti beberapa anuers yang tidak ikut melanjutkan karena alasan yang orisinil, dapat aku tahan. Dalam benakku terpikir bahwa kesempatan menikmati Merapi ini adalah hal yang jarang dan sangat berpotensi menjadi track GIDAH nomor satu selama beberapa tahun ke depan.

Track ini sebenarnya jika dalam kondisi yang masih segar, dapat dinikmati dengan semriwing, hampir sama dengan track menanjak sebelumnya, kondisi track sangat besar rolling resistance akibat pasir yang seolah mengejek kami sepanjang perjalanan. Aku sempat istirahat membeli minuman dan melihat kondisi beberapa anuers sama seperti diriku yang sudah mulai down dengan kondisi tubuhnya. Alas, kami tetap memutuskan untuk menaklukan sesi dua ini dengan sisa-sisa tenaga kami.

Setelah melahap hampir 7 km, aku merasa lebih putus asa lagi, karena aku sendiri berada di posisi tengah antara grup pendahulu dan grup lelet. Seolah tanjakan itu tidak ada ujungnya, dengan kecepatan rata-rata di bawah 10 km, aku melihat pemandangan daerah merapi yang luluh lantak akibat sapuan lahar, terlihat jelas tanah-tanah yang sebelumnya tandus kembali di tumbuhi tanaman-tanaman baru. Di depan samar-samar aku mulai melihat ekor dari grup awal yang sempat berhenti beberapa kali memberi kesempatan kepeda truk yang lewat. Dan juga sudah mulai terlihat jeep-jeep offroad yang mengangkut para wisatawan yang hanya bisa melihat kepadaku dengan belas kasihan(mungkin). Pemandangan bekas letusan makin terlihat ketika aku makin mendekat dan merasakan tanjakan makin miring.Lahar yang membeku teronggok seperti lelehan batu hitam yang tidak bisa ditumbuhi apa-apa.

Aku bisa menghampiri om Farid dan om Tutus yang kembali meluncur meninggalkan aku, om Farid dengan muka yang terlihat seperti ingin menangis bertanya dengan pertanyaan yang tidak perlu aku jawab : “di mana sih ujungnya tanjakan ini?.” Kami hanya melihat tumpukan lahar dan batu dan di sana ada beberapa warung baru serta jeep-jeep offroad, tapi kami tidak melihat anuers. Kemungkinan itu ujungnya dan anuers tidak terlihat karena sudah leyeh-leyeh di dalam warung sana.

 

Dan betul saja, dengan sisa tenagaku yang ada sekitar 20 menit kemudian, aku berhasil menuju titik terakhir tanjakan. Kusandarkan si pispot di dekat warung bambu yang di singgahi anuers, sebelum aku memesan minuman dan makan, aku sempat membawa pispot ke bunker dan meminta diphoto sekedar untuk dijadikan bukti bahwa aku sudah pernah ke sana…

 

Sambil melepas penat, meneguk segelas besar teh hangat, bercengkrama dengan kawan-kawan yang sudah tiba terlebih dahulu, memakan pisang, memesan indomie melihaz sekeliling, tampak di seberang bunker bendera merah putih yang ditancapkan di atas rumah Mbah Marijan. Rumah di mana dia ditemukan tewas, terkena awan panas dan lahar, dalam usahanya menurut versi dia yang merasa dapat mencegah kehendak Tuhan.

 

Terlihat juga beberapa wisatawan perempuan  dari korea yang rambutnya semua dicat pirang. Tragal trigil menikmati suasana sejuk riang gembira.Beberapa anuers memohon dengan memelas kepada mereka untuk berphoto bersama seolah mereka artis-artis dangdut yang sering tampil di TV. Dikesempatan itu juga kami bertemu dengan seorang om biker yang mengenali kami sebagai anak-anak Robek, kebetulan dia sering ber cross country dan nongkrong di base camp Asem. Dia dan keluarganya sedang berlibur di Yogyakarta dan pada hari itu mencoba menikmati merapi dengan jerp offroad.

 

Selama kami melakukan perjalanan petualangan bersepeda ke manapun, yang kami jawab ketika ada orang bertanya: “dari mana nih?”, selalu kami jawab dengan pasti jawaban yang membuat kami bangga “kami dari Robek”. Kalau kami bilang “kami dari anu”, setiap orang juga sudah tahu bahwa kami dilahirkan lewat anu.

 

 

By AKJ feet Klewang

 

blackenDitengah desingan peluru, deburan pasir merapi dengan sapuan mistisnya dan derungan jeep2 buatan amerika tahun 1940 yang biasa digunakan dalam peperangan ala negeri engkong sam, kami yang baru saja rehat sejenak diwarung bamboo yang berada di kali adem, dan seketika itu datanglah seorang RC Hitler yang tentu tidak asing bagi kami.

ceuk aing gek…

Gelak heran dan tawa pun datang dari sisi sebelah warung lain, tatkala seorang Anuer dengan bahasa ala vikynisasi kejawen bertanya kepada seorang penjual “Mbak boten-boten berapa???’’ hah…….bahasanisasi intelek jawa yang di dapat dari kamusnisasi primbon yng dipinjam dari rumah si mbah.

Sensasi menanjak ke arah kali adem setelah menikmati etape turunan 1 (klongon-bronggang), merupakan medan terberat yang pernah kami rasakan, butuh power dua kali lipat untuk mempush setiap putaran pedal, jalan menanjak dengan pasir berbatu menjadi tantangan sendiri bagi kami dan rasanya lebih berat dibandingkan menanjak di trek makadam dalam trip ciptagelar tahun lalu, bahkan beebrapa dari kami pun sempat berhenti untuk mengecek apakah ada yang salah dengan brake, termasuk saya yang sempat mengecek hub, free hub untuk memastikan putaran wheel tidak mengalami masalah.

 

Setelah regrouping, RC lokal kita yang di pimpin oleh Om Bimo, kembali mengarahkan bahwa kita akan memulai etape terakhir meluncur cihuyy dari kali adem-jembatan sungai opak yang berjarak 17 km melawati single trek, berkelok dengan kontur pumping sekaligus melewati jembatan sabuk penahan lahar panas dari erupsi merapi beberapa tahu lalu

1264681_10200928313624943_1038486229_o

 1267976_10200928302704670_2046068152_o

 

 

 

 

 

 

 

 

Well…this is it klewang dan traktor kembali happy, setelah berjuang menaklukan tanjakan yang ampunnn…bonus pun di raih, berbekal ban depan kenda 2.35 dan belakang maxis minion 2,35 ku turunkan sedikit seatpost, ku jejakan kaki ke paku pedal, ku taruh jari telunjuk di tuas brake, and…lets go..meluncur turun 45-65 kpj, meliuk-liuk diantara perbukitan dan pepohonan, pumping di single trek, meloncat-loncat di drop of dan jebrreettttt…… meneros hamparan debu dari roda2 jeep yang kami papasi wow…pastinya rombongan O2 bakalan girang disuguhin trek macem beginian.

1272225_10200928327945301_1174464777_oSesampai dijembatan kali opak, om bimo pun kembali mengajak regrouping, menyampaikan bahwa kita telah finis, dan rombongan bisa melanjutkan sedikit naik turun via onroad menuju kaliurang desa pamungkas yang kurbil berjarak 10km menuju kediaman Ibu Mertua dari Sir Ket Aye, sayangnya om bimo dan kawan2 jogja memilih menaiki mobil epak ke tujuan yang sama “ ya iya lah 10km via onroad pake double crown mah bisa bikin turun bero cuyyy”

Sesampainya di pamungkas tepat pukul 16.00 kami pun segera bergegas untuk bersih bersih bergantian, tak lupa sholat dan yang paling penting adalah menikmati menu special yuk ya apalagi klo bukan Gudeg H. Amad yang terkenal manis dan gurih ditambah lagii dengan pedasnya pecel dan tempe bacem buatan si mbah yang special dikirim dari cangkringan  untuk mantu tercinta dan kawan-kawannya. “jadi teringat dengan sir gigs, yg sedang berpeluh keringat dengan bata

Setelah melakukan loading sepeda ke elbir dan panther yang telah setia mengantarkan kami selama trip ini, Tepat pukul 17.45 rombonganpun bergegas, menaiki Suzuki carry pik up yang telah di carter untuk mengantarkan kami menuju stasiun tugu bak kambing yang dijejali di dalam sebuah angkutan, kami pun terlihat seperti supporter tarkam norak yang baru saja mendukung tim bola kampung kesayangannya menuruni indahnya  wilayah kali urang menuju kota untuk mengejar kereta senja utama solo yang akan mengatarkan kami pulang kebekasi pukul 19.00

Tuitt..tuiitt tepat pukul 19.00 kereta pun tiba, kami  mulai menaiki gerbong, dan menempati kursi-kursi serta menandai kolong kursi sebagai tempat peristirahatan selama perjalanan, mas bantal….mas selimut…mas kopi susu 2, mas kacangnya….kecerewetan yang hampir sama ketika berangkat dari jakarta terjadi lagi, hmmm…setelah itu kalian juga akan pada tergeletak. Tepat jam 03.00 pagi kami pun menginjakan kaki di stasiun bekasi, kami pun berpisah satu  persatu, ada yang manaiki ojek, naik taksi beramai-ramai, minta di jemput dll untuk satu tujuan kembali ke rumah dan bertemu kembali dengan keluarga tercinta. Sungguh perjalanan yang kental dengan nuansa petualangan, persaudaraan, kegembiraan yang menjadi ciri khas dalam setiap trip yang dilakukan oleh Anuer

 

Well Guys…….ingin ikut kami untuk berpetualang dan menikmati kentalnya rasa persaudaraan, siapkan sepeda kalian, perbanyak b2w, ngelep sumarekon dan yang pastinya siapkan mental kalian (PENTING) celaan, hinaan dan penistaan bisa datang secara bertubi-tubi pastinya ahahahahahaha

 

C.U. on next trip…Ambon manise

Foto2 dapat dilihat di :

https://www.facebook.com/fitri.purwiyanto/media_set?set=a.10200928245303235.1073741827.1078689182&type=1

https://www.facebook.com/antonymaulana/media_set?set=a.10201984625406945.1073741841.1524721844&type=1

https://www.facebook.com/antonymaulana/media_set?set=a.10201985691313592.1073741843.1524721844&type=1

https://www.facebook.com/tjahyo.tj/media_set?set=a.10201951552380895.1073741831.1547373751&type=1

https://www.facebook.com/luhur.eko.7/media_set?set=a.10201187494226881.1073741832.1156244425&type=1