Cuma mau share tentang kejadian yang menimpa saya kemarin siang saat gowes b2w. Kemarin siang memang cuaca sangat panas. Dari aplikasi handphone saya menunjukan kisaran suhu 33- 34° celsius. Dengan cuaca seperti itu saya sengaja berangkat lebih awal 10 menit dengan gowes lebih santai. Menjelang pasar pondok gede mulailah saya  merasa kelelahan, nafas lebih pendek, mulai sering menguap. Kalau bahasa kerennya mah kliyengan. Saya pun berhenti sejenak dan langsung minum. Agak enakan, saya lanjutkan perjalanan. Kejadian yang sama terulang di pasar pondok gede. Saya berhenti lagi. Minum sampai air di botol habis. Namun kali ini gejalanya tidak hilang malah tambah berat. Akhirnya saya melipir ke warteg lalu pesan teh manis hangat dan langsung rebahan di bangku warteg. Setelah gejalanya mulai hilang akhirnya saya lanjutkan perjalanan ke rumah sakit tempat saya bekerja dengan perlahan. Alhasil saya pun terlambat 12 menit namun alhadulilllah sampai dengan selamat.

Syncope

Sebenarnya ini bukan kejadian pertama selama ini saya bersepeda. Dulu waktu gowes ke papandayan, setelah tanjakan monteng saya mengalami kejadian yang sama. Dan dulu juga sewaktu robek gowes ke rumah hutan serang, seinget saya nte Dhesce mengalami gejala yang sama. Namun kejadian kali ini yang membuat saya mencari informasi dan mencoba menuliskannya melalui artikel agar bisa menjadi pengingat bila mungkin ada teman teman pernah mengalami hal yang sama.

Sesampainya dirumah saat pulang kerja saya cerita sama ibu yang juga seorang perawat. Beliau berkata itu gejala hipoksia. Namun saya merasa itu seperti gejala anemia. Memang gejala gejala tersebut sangat mirip dan bahkan bisa saling mengakibatkan. Dan setelah saya baca baca artikel yang berkaitan, gejala tersebut lebih dikenal dengan PRESYNCOPE. Apaan tuh? Berikut hasil searching yang saya kutip dari berbagai sumber dan juga hasil diskusi dengan teman sejawat:

faint2webKepala pusing atau terasa seperti kliyengan sering dialami banyak orang yang kadang dapat mengganggu aktivitasnya. Sebenarnya apa penyebab kepala merasa kliyengan? Kliyengan atau pusing sering digunakan untuk menjelaskan suatu perasaan seperti ingin pingsan atau merasa lemah dan goyah. Arti dari kliyengan sendiri adalah pusing, pening, sakit kepala. Berbeda dengan pusing yang membuat seseorang berpikir bahwa lingkungannya berputar atau bergerak maka itu disebut dengan vertigo.

Syncope atau bisa disebut juga vasodepressor syncope adalah suatu kegawatdaruratan medik yang paling sering dijumpai di tempat praktek dokter gigi, atau ditempat lain dimana pasien mengalami penurunan atau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba dan bersifat sementara akibat tidak adequatnya cerebral blood flow (aliran darah di otak tidak tercukupi). Hal ini disebabkan karena terjadinya vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan bradikardi (tekanan darah melemah) secara mendadak sehingga menimbulkan hipotensi (rendahnya tekanan darah).

Faktor yang dapat memicu terjadinya syncope dibagi menjadi 2 yaitu: faktor psikogenik (rasa takut, tegang, stres emosional, rasa nyeri hebat yang terjadi secara tiba2 dan tidak terduga dan rasa ngeri melihat darah atau peralatan kedokteran seperti jarum suntik, alat2 kedokteran gigi) dan Faktor non psikogenik (posisi duduk tegak, rasa lapar, kondisi fisik yang jelek, dan lingkungan yang panas, lembab dan padat, pasien laki2, pasien dengan usia antara 16-35 tahun). ( ini yang saya alami ). Pada pasien pasien dengan Diabetes Melitus keadaan ini juga sering terjadi diakibatkan rendahnya kadar gula dalam darah atau tingginya kadar gula dalam darah (Hipoglikemia / Hyperglikemia)

Gejala klinis vasodepressor syncope dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu: Presyncope, syncope, postsyncope. Fase presyncope adalah manifestasi prodormal (gejala awal) syncope diawali dengan perasaan tidak nyaman, seakan mau pingsan, mual, keringat dingin di seluruh tubuh. Apabila berlanjut dapat muncul tanda2 dilatasi pupil, pasien menguap, hyperpnea (kedalaman pernapasan yang meningkat) dan ekstremitas atas dan bawah (tangan dan kaki) teraba dingin. Pada fase ini tekanan darah dan nadi turun pada titik dimana belum terjadi kehilangan kesadaran. Fase syncope ditandai dengan hilangnya kesadaran pasien dengan gejala klinis berupa (a) pernapasan pendek, dangkal, dan tidak teratur, (b) bradikardi dan hipotensi berlanjut, (c) nadi teraba lemah dan gerakan konvulsif dan muscular twitching pada otot2 lengan, tungkai dan wajah. Pada fase ini pasien rentan mengalami obstruksi jalan napas karena terjadinya relaksasi otot2 akibat hilangnya kesadaran. Durasi fase syncope bervariasi tergantung posisi tubuh pasien. Pada posisi supine( kepala lebih rendah daripada kaki) pemulihan akan berlangsung cepat, mulai beberapa detik sampai beberapa menit. Fase terakhir adalah fase postsyncope yaitu periode pemulihan dimana pasien kembali pada kesadarannya. Pada fase awal postsyncope pasien dapat mengalami disorientasi, mual, dan berkeringat. Pada pemeriksaan klinis didapatkan nadi mulai meningkat dan teraba lebih kuat dan tekanan darah mulai naik.

Shock position

Shock position

Tata laksana kegawatdaruratan medis dilakukan berdasar kaidah-kaidah baku yang harus diikuti yaitu penilaian tentang jalan napas (airway), pernapasan(breathing), sirkulasi( circulation), kesadaran (disability) disingkat ABCD. Pada pasien yang mengalami syncope, perlu dimonitor kesadarannya secara berkala dengan melakukan komunikasi verbal dengan pasien. Apabila pasien dapat merespon baik secara verbal maupun non verbal berarti aspek airway dan breathing baik. Aspek circulation dapat dinilai dengan memonitor nadi arteri radialis dan pengukuran tekanan darah. Penanganan synkope sebenarnya cukup sederhana yaitu menempatkan pasien pada posisi supine atau posisi shock( shock position). Kedua posisi ini bisa memperbaiki venous return ke jantung dan selanjutnya meningkat cerebral blood flow. Selain intervensi tersebut pasien dapat diberikan oksigen murni 100% melalui face mask dengan kecepatan aliran 6-8 liter per menit. Bila intervensi dapat dilakukan segera maka biasanya kesadaran pasien akan kembali dalam waktu relatif cepat. Setelah kesadaran pulih tetap pertahankan penderita pada posisi supine, jangan tergesa-gesa mendudukkan pasien pada posisi tegak karena hal ini dapat menyebabkan terulangnya kejadian syncope yang dapat berlangsung lebih berat dan membutuhkan waktu lebih lama.

Sumber :

 

Disclaimer : saya bukan seorang dokter, mungkin bila ada pertanyaan bisa ditanyakan kepada ahlinya.