Hari itu 3 hari yang lalu, mendadak dicetuskan adanya kegiatan survey NR yang akan dilakukan pada sabtu malam. Beberapa orang menerima undangan tersebut dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Maka hari itu di sabtu malam itu, jam 9 malam, terkumpullah di komsen beberapa goweser yang kemudian menggabungkan diri di tikum utama yaitu di kediaman om WJ yang telah menyiapkan sajian semi berat berupa martabak manis dan asin, timun suri dan kolak, sebanyak total 16 goweser bersepeda mtb, no sepeda mini, siap menikmati indahnya malam.
Setelah berdoa bersama, dengan berniatkan kepada tadabur alam, menikmati keindahan alam di malam hari, melewati beberapa tempat yang angker dengan keyakinan para setan, genderuwo dan kuntilanak di bulan yang suci ini akan di ikat dan dibelenggu, maka perjalanan “gowes sabtu malam oh indahnya” inipun dimulai.
Bermodalkan GPS yang terpasang disepeda sang RC yaitu om QQ serta GPS tradisional (gangguin peduduk setempat), perjalanan ini berjalan dengan mulus.
Perjalanan yang sangat tak ringan. Berbagai jalan buntu ditemui, juga jalur yang mewajibkan melakukan bunny hop dan adu ringan sepeda, yang sempat memakan korban ketika pantat salah satu peserta yaitu om Fadjar yang demi kerahasiaannya kita sebut saja om dirtek tertusuk pager gara2x kurang tinggi wakakakakaka.
Total jarak perjalanan dari start hingga tempat sahur 45.65km dengan mayoritas jalur off road, total waktu perjalanan 5 jam 5 menit 2 detik, kecepatan terendah 9kpj tertinggi 41kpj.
Kecepatan jelas meningkat drastis ketika dikejar anjing. Sayang wajah om Apip yang sedang melarikan diri tak sempat di rekam dan saya tidak tahu nasib apa yang ada di belakang sana.
Perhentian resmi dilakukan hanya 1 kali ketika pada kehabisan air disebuah warung di pinggir jalan.
Jalanan yang agak licin karena embun dan sisa gerimis sempat membuat tergelincir beberapa orang. Tanjakan single trek nan gelap gulita juga sempat memakan korban rantai putus dan ban bocor tepat di kuburan. Tapi itu semua tak menyurutkan keinginan untuk segera melakukan sahur. Perjalanan yang gelap ini di hiasi oleh kelap kelip senter bak pedagang senter yang melewati kegelapan. Turunan2x sekelas grenkenyonpun di lahap tanpa rombongan terputus, sungguh kenikmatan yang tiada tara.
Tercatat 2 orang orang mengalami kram, tapi tak menyurutkan semangat untuk menyelesaikan trek. Walau akhirnya 1 terpaksa akhirnya mengevakan diri.
Terlampir wajah2x bahagia menikmati sahur yang sederhana tapi rasanya nikmat sekali ini.
Suatu kepastian perjalanan ini¬†membuktikan benarnya pepatah yang mengatakan, “di bulan suci ini genderuwo di belenggu, tapi anjing2x dilepaskan“.