ANUdax 400 versi ROBEKers

ANUdax 400 ROBEKers
ANUdax 400 ROBEKers

Ditulis oleh WaKorwil ROBEK 2015, om FF (Firman Firdaus)

Maaf agak telat soalnya saya (sok) sibuk. Selamat menikmati.

=====
Pagi yang sejuk, 31 Oktober 2015. Hari masih gelap. Waktu baru menunjukkan pukul 5.30. Giant Hypermarket di mulut tol Bekasi Barat belum buka, tetapi saya dan 14 orang Robekers lainnya sudah berkumpul di pelatarannya. Kami akan mencoba tantangan bersepeda dari Bekasi ke Pangandaran, menempuh jarak kurang lebih 400 kilometer. Tantangan yang diberi titel menggetarkan: ANUdax400.

Hal yang biasa saja? Tidak juga, karena kami akan melakukannya nonstop. Kami menargetkan untuk menyelesaikan tantangan ini dalam 24 jam. Agak ambisius, walau bukan tidak mungkin. Jika tidak dicoba, kita takkan pernah tahu, bukan? Satu per satu, para peserta pun berdatangan. Lebih dari setengahnya menggunakan sepeda balap (roadbike), mengingat lebih dari 90 persen jalur yang akan kami lalui berupa aspal halus. Sekaligus agar bisa mengejar target waktu, tentunya.

FOKE sebelum berangkat
FOKE sebelum berangkat

Beberapa menit kemudian, hampir seluruh anggota tim berkumpul, kecuali satu: sang road captain (RC) sendiri, Om Iman Permadi. Kami menunggu dia bukan (hanya) karena dialah kapten yang akan memandu kami, melainkan lantaran dia kadung menjanjikan sarapan pagi berupa spageti! Ini yang kami tunggu-tunggu, sebenarnya.

Setelah bersabar menahan lapar, yang dinanti pun tiba. Sebaskom spageti langsung disantap oleh para peserta ANUdax400 yang memang harus mempersiapkan kondisi fisik sebaik mungkin, termasuk soal asupan makanan. Teh manis hangat yang juga disajikan sang kapten menutup dan melengkapi sarapan kami.

Obrolan santai sambil sarapan sblm berangkat start
Obrolan santai sambil sarapan sblm berangkat start

Sebelum berangkat, Om RC—yang biasa dipanggil “Om Blaken” karena warna kulitnya yang agak hitam—menyampaikan beberapa taklimat (briefing) terkait perjalanan ini. “Ingat, ini bukan balapan. Masing-masing kita berlomba dengan diri sendiri,” katanya mengingatkan, layaknya seorang ayah yang menasihati anak-anaknya. Dia memang sangat kebapakan. Seperti bapak-bapak, tepatnya.

Taklimat dari Om RC diakhiri dengan doa, agar tidak ada hambatan dalam perjalanan dan mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa.

briefing oleh RC
briefing oleh RC

Rute yang akan ditempuh adalah Bekasi-Karawang-Cikalong Wetan-Purwakarta-Padalarang-Bandung-Tasik-Ciamis-Banjar-Banjarsari-Pangandaran. Lepas dari Giant, tim menuju Bekasi Timur dengan formasi masih berjalan beriringan. Namun, baru beberapa puluh meter berjalan, anggota tim paling muda bernama Jerry Vanhoten—yang mengingatkan kita pada merek cokelat lawas—mengalami musibah: bannya bocor. Tetapi, tidak lama kemudian dia berhasil mengatasi rintangan dan kembali bergabung dengan tim di depan.

Menjelang Tambun, sekitar 15 kilometer dari start, rombongan mulai terpecah menjadi empat: frontliner yang merupakan para pembalap tangguh, bagian tengah-depan, tengah-belakang, dan belakang. Saya, yang menggunakan sepeda lumayan berat, masih berupaya berada di barisan tengah-depan, berdua dengan Om Teguh Imam Yuwono yang berkali-kali mengingatkan saya supaya tidak meninggalkan dia. “Soalnya saya sama sekali tidak tahu jalan,” katanya. Dalam hati, saya berkata, “Lha wong jalurnya jalur utama.”

Di jalur Tambun-Karawang Barat, lalu lintas sudah relatif sepi—walau tentu saja tidak sesepi hatiku saat kau meninggalkanku. Saya pun berusaha memacu dengkul agar selisih waktu dengan rombongan depan tidak terlalu jauh, dan agar tidak terlalu meleset dari target. Di belakang saya, Om Teguh masih setia menempel, meski beberapa kali terpisah cukup jauh. Kesetiaan yang hanya bisa ditandingi oleh merpati atau buaya.

Cuaca mulai terasa hangat. Pemandangan masih didominasi pabrik-pabrik. Tidak ada yamg menarik. Tantangan terbesar bagi saya saat ini adalah angin (headwind) yang membuat kayuhan terasa berat. Ditambah lagi 2-3 “gundukan” berupa jembatan atau flyover. Namun, berhubung kondisi tubuh masih fit, semua bisa dilibas tanpa hambatan.

Di Karawang Timur, saya sempat bertemu Om Budi Edi Prayitno (eks-Korwil) yang sedang sendirian, menepi, seperti kebingungan melihat-lihat peta lewat ponselnya. “Kayaknya RC salah kasih rute nih,” katanya. Saya tidak terlalu memedulikan dia, dan terus melanjutkan kayuhan (walau akhirnya disalip juga sama Om Budi, yang dalam kesempatan ANUdax 400 ini terlihat lebih ganteng—menurut pacarnya—dengan sepeda titaniumnya).

Peserta pertama sampai tikum : KI-KA : om Widhi, om Jrot, om Budi

Sekitar pukul 8.00, saya tiba di perhentian pertama, pertigaan Kosambi. Sekitar 52 kilometer dari start. Sudah ada lima peserta lain, para frontliner yang tiba lebih dulu di situ. Dua orang peserta lainnya, Mas Dirman (Madro) dan Om Tutus memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan tanpa menunggu peserta lain. “Gidah,” kata saya dalam hati.

Waktu menunggu tim belakang saya manfaatkan untuk minum, mengganti cairan yang hilang sepanjang segmen pertama. Tak berapa lama, beberapa orang mulai berdatangan.

“Kami sempat salah belok, malah masuk ke Karawang Kota,” sambil ngos-ngosan, satu-satunya peserta perempuan dalam tantangan ini, Tante Arie Sesuatu, eh Susiati, menjelaskan keterlambatannya di perhentian pertama ini. Tanpa berlama-lama, kami segera melanjutkan perjalanan.

Rute Kosambi-Purwakarta kami lalui lewat Jl Industri. Jalur masih datar, cenderung menanjak halus. Ada satu tanjakan kurang sopan saat memasuki wilayah Purwakarta. Panas yang mulai menyengat membuat saya mengurangi kecepatan untuk menghemat tenaga. Beberapa peserta lain juga mulai tertatih-tatih. Di pinggir jalan dalam rute ini saya sempat melihat Kusumartono Rattin (Om Tono) mlipir untuk menyeruput es campur (atau es buah? Entahlah).

kantor pos pangandaran lokasi isitrahat

Beberapa kilometer kemudian, akhirnya saya menemui Om Afrianto Trisno (yang juga eks-Korwil) dan Om Wiko Haripahargio (nama panjangnya memang agak sulit dilafalkan). “Cari Alfamart dulu,” kata Om Wiko, menyodorkan ide yang sangat bagus menurut saya. Beberapa menit kemudian, peserta terganteng, eh tersenior/tua, Om AS Pratisto—yang dikenal dengan Kang Eep—dan Yanuar Pribadi (Om Inu) bergabung juga, tidak tahan terhadap godaan Alfamart yang terkutuk.

Jujur saja, semangat saya mulai agak kendor pada titik ini. “Saya sampai Bandung aja deh,” ucap saya kepada Om Inu. Flu yang masih menghinggapi—yang mengganggu napas saya karena produksi ingus yang berlebih—membuat perjalanan kian berat. Namun, melihat teman-teman lain yang masih bersemangat ikut melecut gairah saya. Perjalanan pun berlanjut.

Tantangan sebenarnya dari perjalanan di etape ini adalah tanjakan panjang Plered-Panglejar. Sengatan matahari semakin galak, segalak ibu-ibu saat tanggal tua. Para pecandu tanjakan sepertinya sudah melesat jauh di depan. Saya tidak peduli. Saya memutuskan untuk menurunkan ritme, berganti gear ringan. Mengatur napas.

Beberapa peserta lain sudah jauh tertinggal di belakang. Saya, Om Inu, dan Om Tono berkali-kali bersisian. Berbagi desah napas. Bukan karena nafsu birahi, melainkan rasa letih yang sangat. Beberapa kali saya terpaksa berhenti sejenak. Baru sekitar pukul 13.30 saya akhirnya sampai di perhentian Masjid Baabussalam, Panglejar, sekitar 55 kilometer dari Kosambi.

ketmu om Toto B2W-1 di pangleujar

Di Panglejar, saya akhirnya menuntaskan hajat yang tertahan, buang air besar. Lega sekali. Tetapi tentu saja saya tidak perlu bercerita terlalu detail soal itu, bukan? Berhubung sudah waktunya makan siang, saya menyempatkan untuk makan agak berat, walau dalam porsi yang tidak terlalu banyak.

Dua atau tiga orang peserta yang tercecer terlalu jauh terpaksa dievakuasi, demi kelancaran perjalanan tim. Mereka pun akhirnya bergabung di Panglejar.

Setelah sholat, istirahat, dan haha-hihi, kami kembali bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Om Bleken kembali memberikan taklimat. “Dari sini akan banyak turunan dan jalan datar, tetapi harap tetap berhati-hati,” demikian ia mengingatkan. Bijaksana sekali yah beliau.

Segmen Panglejar-Padalarang mungkin menjadi segmen favorit saya, karena didominasi turunan dan landaian. Meski begitu, menjelang Padalarang, ada beberapa kilometer tanjakan halus, walau tidak sehalus pipi Syahrini.

Saya sampai Padalarang sekitar pukul 14.30-15.00. RC memutuskan agar tim, kecuali Madro dan Tutus yang sudah melesat di depan, tetap berkonvoi saat memasuki dan keluar Kota Bandung. Keputusan yang saya nilai tepat. Cukup lama kami di Padalarang, menunggu tim belakang. Jerry sang cokelat lawas malah sempat tertidur pulas.

MAKAN SIANG di BANJAR SARI
MAKAN SIANG di BANJAR SARI

Memasuki Cimahi, lalu lintas sangat ramai. Maklum, menjelang malam minggu. Orang normal biasanya asyik-masyuk bersama orang-orang terkasih. Hanya orang-orang kurang kerjaan saja yang memilih capek-capek bersepeda. Ya, seperti kami inilah.

Memasuki kota Bandung butuh kerja keras (karena macet), begitu pula keluarnya. Alhasil, menjelang Maghrib kami masih di Bandung.

Ada satu “insiden” kecil dalam perjalanan dari Bandung menuju Rancaekek. Tim di depan terpaksa menunggu lama karena beberapa peserta di belakang memutuskan untuk makan tanpa pemberitahuan. Pada saat inilah kepemimpinan RC diuji. Dengan emosi yang terkendali, Om Bleken menekankan bahwa kebersamaan harus tetap terjaga.

“Kalau tidak sanggup menahan lapar, silakan beli roti atau makanan ringan, karena kalau saling tunggu begini waktu kita menjadi  tidak efektif,” ia menjelaskan dengan sabar, sesabar Sunan Kalijaga yang menunggui tongkat Sunan Bonang di anak Sungai Bengawan Solo.

Makan malam yang sedianya dilakukan di Limbangan, Garut, akhirnya terpaksa dilakukan di Rancaekek, karena kami sudah meleset 3-4 jam dari rencana. Nasi goreng rendang yang sebenarnya rasanya biasa-biasa saja, malam itu terasa begitu nikmat. Beberapa rekan penggowes juga menyempatkan untuk mandi dan sejenak memejamkan mata. Kelelahan sudah menghantui.

break makan malam + rebahan di rancaekek

Sekitar pukul 20.45, kami mulai berkemas untuk bersiap kembali mengayuh. “Kita tidak perlu memikirkan target lagi. Yang penting kita gowes secara bersama-sama dan sampai di tujuan dengan selamat. Kami yang di depan akan menjaga kecepatan dan menunggu di titik-titik tertentu,” ujar RC. Semangat tim pun kembali terlecut.

Tantangan pertama di rute ini adalah tanjakan Nagrek. Malam turun membawa angin dan hawa dingin. Saya kembali berjibaku dengan pilek yang kian mengganggu. Di ujung tanjakan, RC dan rekan lain sudah menunggu. Setelah ini akan ada turunan curam dan panjang. “Hati-hati ya, satu per satu,” RC mewanti-wanti. Yang bikin ciut hati, lampu depan saya mati. RC pun merelakan lampu belakangnya saya pakai.

Namun, tidak lama. Beberapa ratus meter kemudian, lampu pinjaman tersebut terjatuh karena guncangan akibat aspal yang bergelombang. Setelah saya ambil, saya putuskan untuk tidak memasangnya lagi karena khawatir kembali jatuh. Alhasil, saya gowes malam di turunan tanpa lampu. Lepas turunan, tanjakan Gentong dan menjelang Malangbong menghadang.

Saya letih luar biasa. Sekaligus ngantuk. Begitu pula rekan sepergowesan seperti Om Tono, Om Afri, Om Eep, Om Teguh, dan Om Widi. Kami pun memutuskan untuk menyesap kopi panas di malam yang dingin ini.

Dengan semangat yang masih tersisa, akhirnya kami sampai juga di perhentian, sebuah mushola di Desa Ciawi. Waktu sudah pukul 1.30 pagi. Badan saya sudah remuk. Beberapa orang sudah tertidur pulas. Lainnya memutuskan untuk mandi air panas, di lingkungan mushola. Setelah bersih-bersih, saya pun segera memejamkan mata. Tetapi karena udara dingin dan kondisi yang kurang nyaman, rasanya sulit sekali untuk tidur. Belum lagi suara dengkuran entah siapa yang mirip knalpot digergaji! Praktis, saya tidak benar-benar tidur hingga terdengar adzan Subuh.

Dengan mata perih, saya paksakan untuk bangkit dan berwudhu untuk sholat Subuh. Roti selai kacang yang disiapkan Tante Arie langsung tersaji setelah kami kelar berkemas. Dingin masih menusuk. Tak lama kemudian, kami sudah kembali berada di jalan. Kembali mengayuh pedal.

sarapan pagi @ciamis
sarapan pagi @ciamis

Saya tidak memakai windbreaker, hanya sebuah rompi yang juga berfungsi sebagai “lampu” karena memiliki scotchlite, jersey pun lengan pendek, celana juga. Jadi, dingin terasa kian menikam. Apalagi dipaksa untuk memacu kecepatan di jalan datar. Pilek semakin menjadi-jadi. Untungnya, bubur ayam panas menjelang kota Ciamis menghibur.

Kota Ciamis yang kami lewati saat itu sedang melaksanakan car free day. Jadi, menyenangkan sekali. Saya, Om Wiko, Om Tono, dan Om jerry memilih gowes santai saja sambil menikmati gadis Ciamis, eh, pemandangan Kota Ciamis maksudnya.

Dari Ciamis menuju Banjar jalanan masih rolling dan cenderung landai. Udara panas mulai hinggap kembali. Kami tiba di Banjar menjelang siang. Madro dan Tutus mengabarkan kalau mereka sudah tiba di Pangandaran sejak pagi. Artinya, hanya mereka berdua yang berhasil mencapai target 24 jam. Mungkin kurang. Saya tidak peduli.

Car Fre Day Kota Ciamis
Car Fre Day Kota Ciamis

Selepas Banjar, musuh terbesar saya adalah panas dan rasa kantuk yang sangat. Kaki masih kuat mengayuh, tetapi sudah tidak sinkron dengan otak. Saya sempat menuntun sepeda di salah satu tanjakan yang agak terjal. Akhirnya, di Banjarsari, sekitar 45 kilometer sebelum finis di Pangandaran, saya memutuskan untuk dievakuasi. Meski terasa berat, ini keputusan yang tepat buat saya. Selain itu, kebetulan saya hendak menemui Om Yoga, rekan pesepeda di Banjarsari yang akan menyediakan tempat beristirahat buat kami. Sisa perjalanan pun saya tuntaskan dengan bermotor bersama Om Yoga.

Seperti yang dikatakan Om Bleken sebelum start, Anudax bukanlah balapan. Lawan kita adalah diri sendiri. Dan, saya merasa sudah berhasil mengalahkan diri saya sendiri, dengan meredam ego dan menanggalkan gengsi.

mampir ke CAR FREE DAY kota Ciamis
sepeda peserta pertama sampai pangandaran : Om Dirman & Om Tutus
tiba kembali di bekasi

Sampai jumpa di ANUdax selanjutnya.

@daustralala
Copied From: firman.firdaus
Date: 13 November 2015 22.23.15 WIB
To:ROBEK@yahoogroups.com
Subject: [RoBek] Late report: ANUdax 400

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*